Sosial Media
0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    Syamsuddin Umar Nilai Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur Punya Modal Bangkitkan PSM

    2 min read

    MAKASSAR -- Di tengah upaya PSM Makassar mencari kembali performa terbaiknya, kehadiran Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur dinilai dapat menjadi energi baru bagi tim. 

    Bagi mantan pelatih PSM Syamsuddin Umar, pengalaman keduanya penting, tetapi faktor identitas sebagai putra daerah justru menjadi modal yang lebih bernilai dalam membangun kembali karakter Juku Eja.

    Ketika sebuah tim mengalami masa sulit, solusi yang dibutuhkan tidak selalu hanya berkaitan dengan strategi permainan atau pergantian komposisi pemain.

    Dalam banyak kasus, kebangkitan sebuah klub juga ditentukan oleh figur-figur yang memahami karakter, budaya, dan ekspektasi yang melekat pada tim tersebut.

    Pandangan itulah yang disampaikan mantan pelatih PSM Makassar, Syamsuddin Umar, saat menilai kehadiran Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur dalam struktur kepelatihan Juku Eja.

    Menurutnya, keduanya memiliki bekal yang cukup untuk membantu PSM menghadapi tantangan yang sedang dihadapi.

    Syamsuddin menegaskan bahwa Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur bukan sosok yang datang tanpa pengalaman di dunia sepak bola profesional.

    Ahmad Amiruddin diketahui pernah menjadi bagian dari staf kepelatihan Borneo FC Samarinda, salah satu klub yang dalam beberapa musim terakhir tampil kompetitif di sepak bola Indonesia.

    Pengalaman tersebut dinilai memberikan pemahaman mengenai manajemen tim, persiapan pertandingan, hingga dinamika kompetisi di level tertinggi.

    Sementara itu, Zulkifli Syukur memiliki perjalanan panjang sebagai pemain profesional.

    Selain memperkuat sejumlah klub besar di Indonesia, ia juga pernah menjadi bagian dari Tim Nasional Indonesia dan merasakan atmosfer kompetisi pada level yang lebih tinggi.

    Kombinasi pengalaman kepelatihan dan pengalaman sebagai pemain dinilai menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan diri tim.

    Meski mengakui pengalaman keduanya, Syamsuddin menilai ada faktor lain yang justru memiliki nilai lebih besar bagi PSM.

    Menurutnya, identitas sebagai putra daerah menjadi keunggulan yang tidak dimiliki semua pelatih.

    Figur yang berasal dari Sulawesi Selatan dinilai lebih memahami karakter pendukung, sejarah klub, serta filosofi permainan yang selama ini melekat pada PSM.

    Kedekatan emosional tersebut dianggap mampu membantu proses komunikasi dengan pemain maupun suporter ketika tim menghadapi tekanan.

    Dalam sepak bola modern, aspek psikologis dan keterikatan dengan klub sering kali menjadi faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proses pembinaan.

    PSM Makassar bukan hanya sebuah klub sepak bola, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

    Karena itu, ekspektasi terhadap tim selalu tinggi, baik ketika bersaing di kompetisi domestik maupun di level regional.

    Pelatih atau pemain yang memahami budaya klub biasanya lebih mudah beradaptasi dengan tekanan tersebut.

    Mereka juga dinilai memiliki sensitivitas yang lebih baik terhadap nilai-nilai yang selama ini dijaga oleh klub dan suporternya.

    Dalam situasi sulit, faktor kedekatan emosional sering kali menjadi perekat yang membantu tim tetap solid.

    Meski memiliki modal pengalaman dan kedekatan dengan kultur klub, Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur tetap menghadapi tantangan yang tidak ringan.

    Mereka harus mampu mengembalikan konsistensi permainan tim, meningkatkan kepercayaan diri pemain, serta menjawab ekspektasi tinggi publik Makassar.

    Selain itu, perkembangan sepak bola modern menuntut pelatih tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga mampu mengelola dinamika ruang ganti, strategi pertandingan, dan tekanan hasil.

    Karena itu, keberhasilan mereka nantinya akan ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan pengalaman dan pemahaman lokal menjadi prestasi di lapangan.

    Jika proses yang dijalankan berjalan positif, kehadiran figur lokal dalam struktur kepelatihan dapat menjadi model pembinaan jangka panjang bagi PSM.

    Klub tidak hanya memperoleh pelatih yang memahami karakter tim, tetapi juga dapat memperkuat regenerasi sumber daya sepak bola Sulawesi Selatan.

    Pendekatan tersebut berpotensi menciptakan kesinambungan antara identitas klub dan kebutuhan kompetitif di era sepak bola modern.

    Pandangan Syamsuddin Umar menunjukkan bahwa membangun tim tidak selalu dimulai dari nama besar atau pengalaman semata. Bagi PSM Makassar, keberadaan sosok yang memahami kultur klub dan memiliki ikatan emosional dengan daerah bisa menjadi fondasi penting untuk bangkit dari masa sulit. 

    Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa modal pengalaman dan identitas lokal tersebut mampu diterjemahkan menjadi hasil nyata di atas lapangan.

    Komentar
    Additional JS